cakralampung.com – Upaya mendorong pertanian berkelanjutan terus dilakukan melalui inovasi berbasis sumber daya lokal.
Salah satunya diwujudkan oleh Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Padjajaran (UNPAD) dalam program pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut mengangkat tema pemanfaatan limbah jerami padi menjadi pupuk organik berbasis konsep pertanian zero waste yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 4 April 2026 di Kelompok Tani Linggapura IV, Desa Sukoharjo, Kecamatan Sekampung, Kabupaten Lampung Timur.
Produksi padi di wilayah tersebut tergolong tinggi, dengan rata-rata hasil panen mencapai 4–5 ton per hektar setiap musim.
Namun, tingginya produksi tersebut juga diikuti dengan melimpahnya limbah jerami padi yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Selama ini, jerami padi umumnya dibiarkan menumpuk atau bahkan dibakar di lahan persawahan. Praktik pembakaran ini tidak hanya berdampak buruk bagi lingkungan, tetapi juga menyebabkan hilangnya unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium.
Selain itu, pembakaran jerami turut menyumbang emisi gas rumah kaca yang memperparah pencemaran udara.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa doktoral Ilmu Pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menggagas solusi inovatif melalui pelatihan dan pendampingan pengolahan limbah jerami menjadi pupuk kompos organik serta memberikan edukasi dan pemahaman kepada petani mengenai analisis ekonomi pemanfaatan limbah untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi dan pendapatan usahatani.
Program ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani.
Ketua tim pelaksana (Fikri Syahputra), menjelaskan bahwa salah satu permasalahan utama yang dihadapi petani adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi.
Selain itu, ketergantungan terhadap pupuk kimia masih tinggi, sehingga biaya produksi menjadi tidak efisien.
“Melalui pendekatan zero waste, kami ingin mengubah cara pandang petani bahwa limbah jerami bukanlah beban, melainkan aset yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi,” ujarnya.
Kegiatan pengabdian ini terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari penyuluhan, pelatihan praktik, hingga edukasi strategi efisiensi biaya.
Pada tahap penyuluhan, petani diberikan pemahaman mengenai dampak lingkungan dari pembakaran jerami serta potensi ekonominya jika diolah dengan baik. Selanjutnya, dalam pelatihan praktik, petani diajarkan secara langsung cara membuat pupuk kompos organik melalui metode fermentasi.
Bahan yang digunakan pun relatif mudah didapat, seperti jerami padi, kotoran ternak, dedak, sekam, serta bahan tambahan lain yang mendukung proses dekomposisi. Dengan metode ini, diharapkan petani mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri.
Selain itu, melalui anggota tim pelaksana (Rini Desfaryani) petani juga dibekali pengetahuan mengenai manajemen biaya produksi.
“Dengan memanfaatkan pupuk organik hasil olahan sendiri, petani dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya cenderung fluktuatif dan secara langsung berdampak pada peningkatan efisiensi dan pendapatan usaha tani.” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong transformasi pertanian menuju sistem yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Ke depan, model pengelolaan limbah jerami ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah lain, sehingga mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi sektor pertanian di Indonesia. (*)



















