CAKRA LAMPUNG – Sektor pertanian selain berfungsi untuk mencukupi bahan pangan, juga berperan penting selama pandemi Covid-19, menjadi sumber pendapatan masyarakat daerah. Sayangnya, hampir setiap tahun masyarakat tani ini selalu dihadapkan pada kelangkaan pupuk.
Seperti yang dikeluhkan Kelompok tani di Kecamatan Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah.
“Kelangkaan pupuk membuat kami geram,” ungkap Supri salah satu Ketua Kelompok Tani Rekso Binangun, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah.
Supri menjelaskan, kalau pupuk di kampung Rumbia ini sebenernya setiap bulan tetap turun.
Dan untuk kelompok tani yang ada di kampung Rekso Binangun ada 20 kelompok tani yang ada di kampung ini ,namun sangat disayangkan bagi masyarakat petani dan kelompok tani yang mengeluh dengan keadaan pupuk yang sangat minim. “Untuk kelompok saya aja ada 50 orang, kemudian untuk jatah pupuk kelompok saya cuma mendapatkan 15 sak,” keluhnya.
Hal seperti ini, kata Supri, dengan jumlah angota yang tidak mencukupi ini, bagaimana solusinya dengan yang lainnya.
“Sementara di kampung saya ada 20 kelompok tani dan saya juga secara pribadi sangat kekurangan,” ujarnya.
Kemudian untuk harga, Supri mengatakan, memberi 120 untuk pupuk orea, dan ponska 135, kemudian SP – 36 dengan harga 130.
“Kemudian dari semuanya itu saya setorkan dengan gaputan (gabungan kelompok tani) Pak Muji, sesuai harga tebusan yang telah ia tentukan dengan jenis jenis pupuk yang ada,” imbuhnya.
Karena, kata Supri menambahkan, ada 3 macem pupuk, kalau masarakat sebenernya sudah sangat krisis kepercayaan dengan keadaan yang seperti ini.
“Apakah ini memang bener aturanya seperti ini atau bagaimana,” pungkasnya. (hjd/arm/din)


















