LAMPUNG BARAT

Pesta Budaya Sekura Cakak Buah Di Bumi Sekala Brak

Oleh : ENDANG GUNTORO CANGGU, SH, MM

SEBUAH kebudayaan, sejatinya merupakan kristalisasi pemikiran manusia dari hasil adaptasi, interaksi, pencarian, penjelajajahan, imajinasi, permenungan bahkan kadang-kadang penemuan coba-coba terhadap alam, hubungan sesama manusia, dunia abstrak serta dunia transedensi, kebudayaan diciptakan oleh manusia-manusia kreatif untuk mengatasi, menjelaskan dan menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya berkenaan dengan dunia dimana manusia itu berada.

Artinya, sebuah kebudayaan mestinya menjadi sesuatu yang sangat dekat dengan dunia lahir bathin pemiliknya karena ia terbit dan berakar dari persoalan-persoalan setempat. Jika sebuah kebudayaan mampu bertahan dalam rentang waktu yang panjang, niscaya ia memberikan suatu yang dibutuhkan oleh manusia pemiliknya dan sebaliknya kebudayaan tanpa akar yang kokoh hanya akan menjadikan kebingungan dan keterasingan.

Sekura adalah satu dari sekian bentuk/hasil kebudayaan kuno di Lampung, menilik nukilan-nukilan inskripsi arkeologi, Sekura telah diwariskan oleh para leluhur orang Lampung ketika negara-negara tradisional yang tercatat dalam sejarah belum lagi lahir. Kita kemudian mahfum.

Ketika negara-negara tradisional itu runtuh dan berganti dengan negara baru, kebudayaan sekura masih terus bertahan dan menyebar menyatu dengan jiwa masyarakat. Bahkan ketika hasrat membentuk Negara Bangsa yang bernama Indonesia, tidak lagi bisa dibendung, sekura masih terus bertahan dan melanjutkan eksistensinya.

Sedikit di ilustrasikan tentang Pesta Budaya Sekura, Pesta Budaya Sekura adalah Pesta Budaya Tradisional yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri biasanya mulai dari 1 Syawal sampai 6 atau 7 Syawal setiap hari bergantian dari Pekon ke Pekon yang lain. Pesta Budaya Sekura dalam pandangan secara umum kegiatan ini hampir sama dengan pentas theatre luar ruang dengan pelaku adalah masyarakat, dimana gambaran kegiatan budaya ini adalah identik dengan kemenangan, kebebasan dan kegembiraan sebagai ungkapan jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi.

Sekura dalam kebudayaan ini artinya topeng/penutup wajah (menutup wajah) atau merubah penampilan yang menggambarkan berbagai bentuk sifat dimuka bumi ini tapi dalam pesta sekura ini penggambarannya adalah suasana kegembiraan dan kebebasan berkreasi dan berekspresi dalam kebersamaan berkelompok.

Pesta Budaya Sekura secara definisi merupakan perayaan dan atau ungkapan kegembiraan masyarakat secara bersama-sama dengan bertopeng (menutup wajah) dan merubah penampilan sedemikian rupa yang sifatnya menghibur serta bertujuan utama bersilaturahim yang berpuncak pada panjat pinang secara berkelompok dengan sistim beguai jejama (gotong royong).

Sekura secara teknis dibagi 2 kelompok. Yakni, pertama, SEKURA BETIK (Helau), penampilannya helau (indah) lucu, bersih dan sifatnya sebagai penghibur, dengan menggunakan kaca mata gelap dan semua kostum dari kain panjang dan biasanya penutup kepala menggunakan selindang miwang (kain khas sebutan masyarakat Lampung Barat).

Kemudian pinggangnya juga dipenuhi gantungan kain panjang, banyak atau sedikitnya kain panjang yang dipakai oleh seorang atau kelompok orang yang sedang bersekura menunjukkan banyak atau sedikitnya Muli yang jadi pengikutnya (dalam Kebotnya/kelompoknya) karena kain panjang yang dipakai oleh Sekura tersebut dahulunya adalah hasil pinjaman dari muli-muli yang ada dalam Jukku/Kebot adatnya.
sekura betik lebih mengarah pada menghibur penonton dengan tingkah mereka yang bebas berekspresi, sekura betik tidak berhak mengikuti panjat pinang, hanya sebagai penggembira.

Kedua, SEKURA KAMAK (kotor), memiliki penampilan kotor, bisa disebut sebagai juga sebagai “Sekura Calak”. Kamak (kotor) adalah ciri sekura ini yaitu memakai topeng dari bahan Kayu atau dari bahan-bahan alami (tumbuh-tumbuhan) dan atau terbuat dari bahan-bahan yang jelek/bekas yang membaluri tubuh mereka yang akan menjadikan penampilannya menjadi lebih unik dan kotor dengan pakaian aneh dan lucu. Sekura Kamak berhak memanjat pinang yang telah ditentukan, untuk bersaing dan bekerjasama dalam berkelompok untuk mencapai puncak dan menjadi pemenang.

Menurut cerita para pendahulu kita di Sekala Bekhak, bahwa Budaya Sekura ada sejak masa Kerajaan Sekala Brak, berkisar pada abad 13, dimasa tersebut di lereng gunung pesagi, berdiri kerajaan megah bernama Kerajaan Sekala Brak (Kuno), dipimpin oleh pemimpin terakhir mereka bernama Ratu Sekekhemong (Sekarmong), kerajaan sekala brak menganut ajaran animisme, menyembah sebuah pohon besar, yang dikenal dengan sebutan pohon melasa kepampang.

Ketika itu masuk 4 Umpu yang datang dari Samudera Pasai, membawa ajaran Agama Islam, ajaran yang lurus dan bertemu dengan Ratu Sekarmong, tentu saja niat dari 4 umpu ditolak mentah-mentah oleh Ratu Sekarmong, namun sebagian dari pengikut Ratu Sekarmong sudah bergabung dengan 4 Umpu dan menganut ajaran Islam, singkat cerita terjadilah perang antara 4 umpu dan para pengikut barunya dengan Ratu Sekarmong dengan bala tentaranya, yang dikenal dengan Perang Sekala Brak.

Perang ini merupakan perang saudara, karena pengikut 4 umpu merupakan bekas pengikut dari Ratu Sekarmong, dikarenakan mereka bersaudara, maka perang ini menggunakan penutup wajah, agar tidak saling mengenal, penutup wajah (SEKURA), arti dari Sekura itu adalah : penutup wajah, menutup wajah. Menggunakan sekura kayu (topeng yang terbuat dari kayu).
Perang maha dahsyat yang berlangsung 2 hari 2 malam tersebut berakhir dengan terbunuhnya Ratu Sekarmong yang menandakan runtuhnya Kerajaan Sekala Brak (Kuno), dan berdirinya Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak yang ditandai dengan masuknya Islam ke Bumi Lampung.

Pada fase kepemimpinan 4 Umpu yang berbagi wilayah hak ulayat yaitu Paksi Buay Pernong di Henibung Batu Brak, Paksi Buay Belunguh di Kenali, Paksi Buay Bejalan Diway di Puncak Dalom Kembahang dan Paksi Buay Nyerupa di Tampak Siring Sukau, yaitu fase Kerajaan yang menganut ajaran agama Islam, maka kebudayaan sekura terus dilestarikan namun dengan cara islam, yaitu dijadikan sebuah pesta budaya sebagai ajang silaturahmi dan perayaan kemenangan setelah dijalankan “perang” melawan hawa napsu selama 1 bulan penuh yaitu puasa Ramadhan, pada bulan Syawal dihelat pesta budaya dengan para pesertanya menggunakan penutup wajah (sekura) saling bersilaturahmi dengan riang gembira merayakan kemenangan di Hari Raya.

Pesta Budaya Sekura dilaksanakan 1 s.d. 6/7 Syawal yang diselenggarakan bergantian dari desa satu ke desa lainnya, di fase ini timbul Sekura Betik yang menggunakan sekura (penutup wajah) dan kain panjang khas Lampung Barat, Kain Selindang Miwang, seluruh tubuh ditutupi dengan kain selindang miwang dan mengenakan kaca mata hitam, sekura betik biasanya mengawal muli-muli (para gadis) untuk ikut menyaksikan pesta budaya sekura, sekura betik sebagai penggembira di pesta budaya ini.

Sedangkan sekura kamak merupakan jawara dalam pesta budaya sekura dan dipenghujung pesta budaya sekura kamak berhak mendapatkan hadiah yaitu “panjat pinang”, biasanya panitia pelaksana (desa penyelenggara) menyiapkan batang pinang yang berisikan buah-buah berisi hadiah.

Kini kita beruntung hidup dan menjadi bagian dari masa dimana batas-batas ruang dan waktu menjadi begitu maya akibat pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada masa seperti ini, kita seolah tenggelam dalam aliran deras unsur dan bentuk-bentuk budaya yang akar dan sumbernya antah berantah.

Tanpa persikafan bijak dan hati-hati terhadap fenomena seperti itu kita akan hanyut kedalam lautan yang membingungkan dan ironi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang mestinya mempermudah dan mensejahterakan hidup manusia, bisa berbalik memperbudak dan menghadirkan bencana.

Pada fase ini Pesta Budaya Sekura menjadi sebuah tradisi yang hamper punah, hamper hilang, sangat mengkhawatirkan, setiap pekon menghelat pesta budaya sekura, namun pesta budaya tersebut hanya berisi pasar tradisional, yaitu para penjual sayuran, penjual baju-baju, seperti pasar mingguan yang pindah tempat, pesta budaya yang nyaris tidak ada peserta sekuranya.

Sekura timbul ketika akan memanjat buah pinang saja dan inipun dengan mengenakan sekura seadanya, terbuat dari kardus, bahkan hanya mengenakan helm. Ini berlangsung beberapa tahun.
Maka pada fase ini kami berinisiatif untuk kembali membangkitkan marwah sekura, kami bentuk satu forum yang bernama Dewan Sekura, yang beranggotakan penanggung jawab dari pekon-pekon penyelenggara sekura.

Maka timbul ide “Sekura Ngelimuk”, Ngelimuk (nyampah, menyebarkan sampah), karena sekura kamak identik dengan penampilan yang kotor dan membawa daun-daunan serta kayu-kayu yang sudah rapuh membaluri tubuhnya.

Di fase ini sekura menjadi berkelompok, membawa nama pekon nya masing-masing, kalau di fase 1 dan 2 setiap orang yang bersekura bersekura berusaha untuk tidak dikenal oleh orang lain darimana asalnya, maka di fase ini kebalikannya, setiap sekura berusaha untuk dikenal orang lain darimana asalnya, bahkan membawa bendera kebesaran pekon masing-masing.

“Ngelimuk” bukan tanpa alasan, tapi bertujuan untuk meramaikan lagi peserta sekura dalam helat Pesta Budaya Sekura, karena rombongan sekura dari pekon pengunjung datang ngelimuk di pekon penyelenggara bertujuan agar pekon penyelenggara membalas didatangi dan sekura ngelimuk juga disaat dihelat pesta budaya sekura di pekonnya. Dan trik ini berhasil, kembali meramaikan pesta budaya sekura dan kembalinya marwah pesta budaya sekura.

Kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun sampai datangnya wabah Covid-19. Terhentinya seluruh aktifitas masyarakat termasuk pesta budaya sekura di masa pandemi selama 2 tahun menjadikan kerinduan masyarakat akan pesta budaya ini, dan di tahun 2022.

Setelah pelonggaran aktifitas oleh pemerintah, maka pesta budaya sekura kita gelar kembali, dengan peserta yang luar biasa ramainya, namun dimasa pasca corona ini terdapat beberapa catatan penting yang harus dipecahkan bersama oleh Dewan Sekura, para Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Unsur Pemerintah Pekon Penyelenggara dan Kecamatan serta unsur Pemerintah Daerah, terjadi kebablasan kebebasan berekspresi dari oknum peserta sekura, dengan tidak mengindahkan tata titi adat, tidak mengindahkan attitude, sopan santun dengan cara berpakaian yang tidak benar, serta helat sekura yang membuat jalan protocol macet sampi berjam-jam, ini akan dibahas detail serta menurut petunjuk Bupati Lampung Barat akan dibuatkan Peraturan Daerah tentang penyelenggaraan Pesta Budaya Sekura Cakak Buah, sebagai dasar penataan tata tertib dan regulasi dari penyelenggaran pesta budaya sekura yang kita cintai ini.

Semoga dengan dibuatkan regulasi, ditaati dan kita patuhi, maka pesta budaya sekura ini akan terus bisa pertahakankan dan kita helat disetiap tahunnya serta akan menjadi warisan kita kepada generasi yang akan datang, menjadi kebanggaan dan kehangguman kita bersama.

Kedepan diharapkan pesta budaya sekura bukan hanya sekedar pesta budaya semata, namun juga bisa menjadi ajang sumber pendapatan bagi masyarakat lampung barat dengan segala kreatifitasnya, karena dimasa ini kita bisa melihat para pelaku ekonomi kreatif, pelaku UMKM bisa mendatangkan keuntungan yang fantastis dari helat pesta budaya ini. (rls/edi/asf)

What's your reaction?

Related Posts

Load More Posts Loading...No More Posts.