Cakralampung.com – LAMTENG – Waktu memang tak pernah bisa diajak berunding. Rasanya baru kemarin angin pagi pada 24 April 2025 menyapa wajah saya, mengiringi sumpah jabatan sebagai Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah yang terucap.
Hari itu, saya menatap lekat Gedung Kejaksaan, menanamkan sebuah janji dalam diam: amanah ini bukan semata tentang seberapa tinggi sebuah jabatan, melainkan seberapa dalam kita mampu menyelami dan memeluk luka serta harapan masyarakat di Bumi Beguai Jejamo Wawai.
Saya meyakini, cinta pada suatu daerah acapkali harus diwujudkan lewat ketegasan yang tanpa kompromi. Ada saat-saat di mana taring keadilan harus ditegakkan demi melindungi mereka yang lemah.
Ingatan saya masih tertuju pada perburuan DPO Endang Pristiwati. Sepuluh tahun lamanya ia menghilang, bersembunyi bak ditelan bumi, membawa lari uang rakyat. Namun, keadilan tidak pernah lupa jalan pulangnya. Pelarian panjang itu akhirnya kami hentikan di Bandar Lampung.
Langkah tak berhenti di sana. Pengejaran Awalludin menembus bisingnya Ibu Kota Jakarta, hingga napas yang menderu saat menyisir lebatnya hutan memburu M. Azhari di pengujung tahun, menjadi saksi bisu bahwa hukum tak pernah tertidur. Bahkan, mereka yang lari dari wilayah lain dan mencoba mencari tempat persembunyian di tanah kami, tak luput dari sapuan keadilan. Alhamdulillah, semua berhasil diringkus.
Ketegasan itu juga kami tuangkan dalam dukungan penuh tanpa henti kepada rekan-rekan Pidana Khusus. Membongkar kejahatan kerah putih bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk perkara yang telah mengendap bertahun-tahun.
Namun, ketika tabir korupsi dana hibah KONI dan Taman Hutan Kota yang menelan miliaran rupiah berhasil diungkap dan menyeret para tersangka, ada kelegaan yang luar biasa.
Bukan karena bangga berhasil menghukum, melainkan karena kami berhasil merampas kembali hak-hak masyarakat yang sempat tercuri oleh keserakahan dan memberikan kepastian.
Meski begitu, saya selalu percaya bahwa sebaik-baiknya hukum adalah yang mampu mencegah sebelum air mata jatuh. Di sinilah hati nurani saya menemukan tempat peraduannya. Melalui napas kearifan lokal “Jaksa Anjau Silau” dan “Setawayan Setiongan”, kami menanggalkan ego sektoral. Kami turun dari ruang ber-AC, mengetuk pintu-pintu warga, duduk bersila bersama para tokoh adat dan tokoh pemuda, mendengarkan keluh kesah mereka tanpa jarak, tanpa sekat.
Bagi saya, hukum harus menjadi pelita. Di sela-sela tumpukan berkas perkara, saya membiarkan pena berbicara melalui tulisan-tulisan opini di media massa.
Saya ingin mewariskan jejak literasi, mengajak masyarakat melek hukum di tengah derasnya arus digital. Sungguh, ada kehangatan yang menjalar di dada setiap kali suara saya mengudara di Radio Rapemda 92.8 FM, menyapa warga di ujung desa, atau saat menatap mata penuh harapan dari para guru, siswa, dan tenaga medis.
Kami hadir bukan sebagai bayang-bayang yang menakutkan, melainkan sebagai kawan yang mengingatkan.
Persaudaraan yang Tumbuh di Ladang Pengabdian
Sebelas bulan ini terasa begitu hidup karena saya tidak pernah berjalan sendirian. Dalam setiap tegur sapa dan diskusi interaktif dengan kawan-kawan LSM serta jurnalis, saya menemukan cermin pengawasan yang jernih.
Wawancara di depan pintu kantor tak pernah terasa kaku; di sana selalu ada gelak tawa,
persaudaraan, dan niat yang sama untuk merawat daerah ini.
Keadilan itu pun kami bawa hingga menyentuh embun di dedaunan padi. Berdiri di tengah sawah bersama “Petani Mitra Adhyaksa”, atau larut dalam senyum dan semangat para pedagang di Festival UMKM, menyadarkan saya bahwa Kejaksaan adalah urat nadi penyambung kesejahteraan.
Kini, layar waktu mengharuskan saya untuk bersiap berlayar kembali. Saat melihat piagam penghargaan sebagai Peringkat 1 Kinerja Terbaik Bidang Intelijen se-Provinsi Lampung, ada getar haru yang menyelimuti hati.
Penghargaan ini sejatinya bukanlah milik saya, melainkan rupa dari keringat, air mata, dan keikhlasan seluruh tim.
Dari lubuk hati terdalam, saya memohon maaf. Saya sadar, sebagai manusia biasa, masih teramat banyak ketidaksempurnaan, janji yang mungkin belum tunai, dan harapan masyarakat yang belum sepenuhnya mampu saya peluk selama mengabdi di sini.
Namun, terima kasih yang tak terhingga untuk Lampung Tengah. Terima kasih telah menerima dan membesarkan saya di tanah ini, tempat di mana nama depan saya seolah menjadi rajutan takdir: Alpa—Anak Lampung Pubian Asli.
Momen menatap Tugu Kopiah Emas untuk terakhir kalinya dalam seragam ini adalah saat yang paling menyesakkan dada.
Ada doa tulus yang diam-diam saya terbangkan ke langit Tuhan: semoga suatu saat nanti, semesta menakdirkan saya untuk kembali pulang, mengabdi di tanah kelahiran dengan kapasitas yang berbeda, agar lengan ini bisa merangkul lebih luas dan berbuat lebih banyak untuk Provinsi Lampung yang teramat saya cintai.
Saya Lampung. Dan darah yang mengalir di nadi ini akan selalu bangga menjadi orang Lampung—manusia yang berbudaya, memegang teguh adat istiadat, dan mengukir hidup di atas luhurnya “Piil Pesenggiri”.
Kini, tugas memanggil. Kejaksaan Negeri Lombok Tengah menanti jejak langkah yang baru.
Meski raga ini harus menyeberangi lautan untuk menunaikan janji keadilan, ketahuilah, separuh hati saya selamanya tertinggal di sini, di Bumi Beguai Jejamo Wawai.
Lombok Tengah, kami datang membawa pengabdian.
Terima kasih kepada seluruh puakhiku, kiyai, ama, ibu, ayah, ajo, daying, buya, dinda, dan kanda yang selalu menuntun dan menjaga langkah ini berjalan dalam keselamatan, serta dijauhkan dari marabahaya dan kehinaan dunia. Percayalah, kebaikan kalian semua akan kembali berbuah kebaikan.
*Tabik Pun!*
Hormat saya,
Alfa Dera



















